Siapa pun yang pernah bermain cinta pasti akan percaya. Bahwa suatu yang bernama cinta itu awal mula kejadiannya mirip permainan belaka. Hanya saja, apa yang semula tampak seperti ilusi, seperti coretan-corretan abstrak, akhirnya benar-benar terjadi. Menakjubkan sekali.getaran demi getaran di hati yang sulit diterjemahkan itu pelan-pelan mengumpal dan menerobos
keluar kemudian mengejawantah dalam kehidupan kita. Makna-maknanya begitu indah dan agung. Nyaris tak ada kata maupun ungkapan yang tepat, serasi untuk melukiskan atau memaparkan keindahan dan keangungannya. Hakikatnya pun tak dapat direngkuh, apa lagi digenggam, kecuali lewat pengamatan dan penjiwaan yang mendalam.
Kalau saja alasan mencintai hanya karena keindahan fisik, maka bentuk fisik yang kurang indah, pasti tidak ada yang akan menganggap indah dan tidak akan ada yang mencintai. Padahal sering kita temukan orang yang lebih memilih menemukan pasangan dengan bentuk fisik yang tidak terlalu bagus. Walau pun ia tahu ada orang lain yang bentuk fisiknya lebih bagus dari pilihannya, meski pun demikian ia tetap mantap dengan pilihannya dan tidak berpalling sedikit pun pada yang lain. Dan kalau alasan mencintai karena adanya kesamaan dalam akhlak, maka seseorang tidak akan mencintai orang yang tidak pernah membantu dirinya. Dari sinilah aku tahu bahwa cinta adalah sesuatu yang tersembunyi pada kedalaman jiwa, meskipun demikian bisa saja cinta itu timbul dalam sekejap karena suatu sebab. Akan tetapi cinta seperti itu akan cepat, hilang pula seiring dengan tergerusnya apa yang menjadi penyebabnya… orang yang mencintai karena suatu alasan, akan berpaling darimu seiring dengan hilangnya alasan itu. Tentang hal itu aku bersyair:
Cintaku padamu abadi seperti sedia kala
Sampai akhir, tidak kurang karena satu hal, dan tidak lebih
Dan tak ada sebab yang kiranya dapat diketahui orang
Jika kita temukan sesuatu tak berlasan selain dirinya
Maka dialah wujud yang tak akan lenyap selamanya
Dan jika kita temukan sesuatu karena satu alasan
Maka ia akan lenyap ketika lenyapnya alasan
Aku pernah melihat seseorang yang sedang jatuh cinta jaring-jaring cinta telah menjeratnya dan begitu menyibukkan hati dan pikirannya. Aku perkirakan “sakit cintanya” sudah demikian parah akibat hujaman panah asmara, saat itu dia juga tidak pernah menghibur diri dan berdoa memohon kesembuhan kepada Allah atas apa yang sedang menimpa dirinya. Lidahnya tidak pernah tergerak untuk itu. Doa yang dipanjatkannya tidak lain dari minta di persatukan dengan orang yang dicintainya. Sementara “bencana asmara” yang menimpa dirinya begitu besar, dan “derita cinta” yang di alaminya sudah cukup panjang. Tapi rupanya ia tidak ingin kehilangan “sakitnya” itu. Pada suatu hari aku datang kepadanya. Aku melihat dia sudah sedikit terpuruk dalam cinta sehingga keadaan dan perilakunya sudah tidak terkontrol lagi. Kenyataan itu mengkhawatirkanku, ketika ku beranikan berkata kepadanya: “semoga Tuhan memberikan kelapangan kepadamu,” kulihat rona wajahnya memancarkan ketidak senangan kepadaku. Orang dalam keadaan seperti dia mungkin akan bersyair seperti ini:
Kunikmati “nestapa” cintaku padamu, wahai pujaan
Sepanjang waktu aku tak akan berpaling darimu
Jika orang berkata kepadaku,
Kosongkan dirimu sejenak dari mencintainya
Seorang yang sedang jatuh cinta, apabila kurang percaya akan ketulusan cinta kekasihnya, ia akan mengawasi setiap gerak-geriknya dengan ketat (protektif), jauh berbeda dengan kebiasaannya sebelum jatuh cinta. Orang yang sedang jatuh cinta juga senang memperhalus tutur katanya, memperbagus (membagus-baguskan) tingkah laku dan penampilan lahiriahnya.
Pada suatu malam, seorang sahabat datang kepadaku ia bercerita tentang keadaan dirinya dan ia berkata: “suratmu dari Almeria telah sampai dirumahku di jativa gunung sindur, dan mengingkatkan ku akan kebaikan perilakumu.” Aku panjatkan puji kepada Allah, ia begitu bahagia, hingga matanya berkaca-kaca dan berbinar. Tidak lama dari kedatangan surat itu, aku kini langsung melihat dirimu yang sengaja datang kepadaku setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan. Jauhnya jarak, bahayanya jalan yang dilewati dan lelahnya perjalanan, semua dikalahkan oleh kecintaan, kerinduan, dan indahnya bayangan perjumpaan. Maka Kepada-Nya aku panjatkan puji dan syukur. Makna-makna yang kamu tuangkan dalam suratmu itu lebih dari yang biasa aku lihat pada surat-suratmu yang lain. Lalu kamu nyatakan tujuan kedatanganmu kepadaku dan kamu tunjukan kepadaku paham yang kamu pegang. Ternyata antara kita terjalin persamaan dan kebersamaan dalam suka dan duka, lahir dan batin. Kamu telah menjalin cinta yang benar kepadaku, dan kecintaanku kepadamu berlipat-lipat dari kecintaanmu kepadaku. Aku tidak mengharap balasan apa pun selain penerimaan yang serupa dengan kecintaan yang kuberikan. Aku akan meminangmu dengan bismillah, dan atas restu Allah aku berharap kau menjadi yang terakhir untukku.
Aku mencintaimu, cinta yang tak ada kesamaran padanya
Karena sebagian dari cinta orang hanyalah fatamorgana
Dan aku katakan dengan jelas dan tulus
Bahwa kecintaan padamu terukir dengan nyata dan tertulis
Andai dalam jiwaku ada benci padamu
Akan kucabut dan kurobek tabir penutupnya
Tak ada keindahan darimu selain cinta
Dan tak ada bagiku kata-kata cinta selain untukmu
Saat kuhujamkan cinta, bumi ini bagai tanah kering,
Manusia seperti buih dan penghuni bumi layaknya debu
Aku bertanya kepada sahabatku, wahai sahabat dimana kau bertemu dan mengenalnya, gadis yang telah membuatmu begitu bersemangat hingga harimu penuh dengan warna. Ia pun bercerita kembali:
Sahabatku, aku bertemu dengannya disebuah desa yang jauh dari keramain, desa yang begitu indah, tenang dan keramahan dari penduduknya. Dimana ketika aku tengah lewat di desa tersebut, aku melewati jalan dimana tempat berkumpulnya kaum wanita. Disanalah aku melihat seorang gadis yang mempu merebut perhatian dan cintanya, dan dalam sekejap cintaku pada gadis itu menjalar keseluruh tubuh, merayap kejantung dan pori-pori. Fatir yang tak lain adalah sahabatku, kemudian pergi dari tempat itu ternyata si gadis menuju jembatan, dan berlanjut kesebuah perkebunan yang berada di pinggiran desa. Ketika sampai di perkebunan yang berada disebarang sungai, gadis itu berpaling dan memperhatikan aku, dan tidak disangka-sangka ia mendekati aku dan bertanya: “mengapa kamu mengikuti aku?” aku berterus terang kepada gadis itu, “aku jatuh cinta kepadamu” mendengar itu si gadis berkata: “jauhakan ini semua darimu! Jangan kau pancing kemarahanku!”fatir menjawab dengan santun:”sesungguhnya dengan memandangmu saja aku sudah merasa cukup.” Si gadis berkata: “kalau hanya itu boleh saja.”wahai engkau gadis yang singgah dipikiranku, apakah engaku seorang yang merdeka atau hamba sahaya?”perempuan itu menjawab:”aku merdeka.” “siapa namamu” Tanya fatir lagi. “almaira,” jawabnya. “apa aku boleh untuk kembali bertemu denganmu,” gadis itu terdiam menunduk, hingga bibirnya berkata: “bukan aku yang menentukan, siang dan malam, bukan aku yang menentukan perputaran setiap planet, bukan aku yang menentukan matahari, bintang dan bulan. Tapi Allah, dan jika memang kehendaknya aku akan berjumpa denganmu lagi, seperti yang kau inginkan.” “Lalu, dimana aku bisa melihatmu lagi setelah ini?” “seperti kamu melihatku hari ini, pada waktu yang sama, jika allah mengkehendaki,” Kemudian ia berkata kepada Fatir: “kamu yang pergi atau aku yang lebih dulu pergi?” fatir berkata: “pergilah kamu dalam lindungan Allah.” Lalu ia pergi menuju jembatan dan fatir tidak bisa mengikutinya sebab ia selalu menoleh kearah fatir untuk memastikan apakan fatir mengikutinya lagi atau tidak. Setelah gadis itu pergi melewati ujung jembatan, fatir mencoba untuk mencarinya tapi iya tidak menemukannya.
Wahai sahabatku, sesungguhnya engkau tengah dilanda cinta sebuah perasaan yang setiap manusia akan merasakan keindahan, dari arti cinta itu meski terkadang cinta itu tak seindah kata dan tulisannya. Wahai sahabatku demi Allah, aku sadar akan itu semua, namun cintaku pada gadis itu begitu besar, kau tahu wahai sahabat.
“Aku belum pernah melihat seorang gadis yang hampir sempurna dimataku, ia lebih bening dari air yang paling jernih, lebih lembut dari udara, lebih tegar dari gunung, lebih kuat dari besi, lebih indah dari lukisan terindah, lebih bersinar dari sang surya, lebih nyata dari siang, lebih berkelip dari bintang, wajahnya lebih elok dibandingkan Aisah, dan lebih manis dari madu. Sampai sekarang hatiku gelisah memikirkannya, sejak pertemuan itu aku belum dapat berjumpa dengannya kembali,” Ali memandang wajah dari sahabatnya itu, iya melihat mata dari sahabatnya itu berkaca-kaca, wahai sahabatku Fathir: “Yakin adalah tetapnya ilmu di dalam hati iya tidak berbalik, tidak berpindah. Yakin adalah berhentinya keraguan dalam penyaksian yang tersembunyi, Cintamu padanya abadi seperti sedia kala Sampai akhir, tidak kurang karena satu hal dan tidak lebih tidak ada alasan bagi cintamu selain keinginan dan keyakinan. Dan tak ada sebuah yang kiranya dapat diketahui orang Jika kau temukan sesuatu tak beralasan selain dirinya maka dialah wujud yang tak akan lenyap selamanya dan jika kau temukan sesuatu karena satu alasan maka ia akan lenyap ketika lenyap alasan Begitu juga dengan keyakinan, Yakinlah wahai sahabatku, kelak kau akan berjumpa dengannya atas restu-Nya.”
Hingga waktu berputar menjelang sang fajar, bersama dengan perginya sahabatku, aku masih terdiam. Aku benar-benar heran dengan orang yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama, aku hampir-hampir tidak mempercayainya. Aku pikir cintanya tidak lebih dari nafsu syahwat, besar dugaanku cintanya itu bukan tumbuh dari kelembutan nurani, yang sanggup menyibakkan tirai hati. Aku sendiri tidak pernah merasakan cinta, kecuali melalui sebuah proses yang panjang, setelah terlebih dahulu menjalin kebersamaan yang tidak sebentar dan setelah sekian waktu bersama, dalam suka dan duka, dalam susah dan senang. Aku tidak akan lupa tentang jalinan kasih sayangku dengan seseorang. Sebelum aku jatuhkan pilihan cintaku pada orang itu, antara aku dan dia terlebih dahulu terjalin hubungan persahabatan yang mendalam, makan dan minum bersama, setelah aku mengenalnya dengan baik, tak pernah bosan untuk bertemu dan berbagi cerita dengannya. Tapi sekali lagi aku katakan aku tidak pernah cepat mengucapkan kata cinta kepada seseorang pada perjumpaan pertamaku. Meski kini cintaku telah karam, tergerus dalam putaran sang waktu cinta yang dahulu begitu aku puja kini berganti dengan kebencian yang terukir dalam sebuah tulisan pengkhianatan,iya pengkhianatan yang merupakan lawan atau kebalikan dari kesetiaan. Meski rasa dari kata itu begitu menusuk dada menjadi sesak seolah dihentak oleh batu basar, seperti tertikam belati sang pemburu, seperti tertusuk pedang para khalifah, seperti tertimbun bongkahan-bongkahan batu es, yang begitu dingin membekukan hati dan jiwa.dan tentang hal ini aku mempunyai sebuah syair:
Tidakah kau tahu setiap kali adam mengunjungi zainab,
adam selalu mencium harum wewangian,
meskipun ia tak menggenakan minyak wangi.
Wahai prempuan berparas rembulan
engkau adalah bidadari yang dikirim dari surga,
Matamu, telah memberikan nasehat di siang hari,
sangat jelas nasehatnya, hingga mengalir air mata
Maaf bila merindu membayangkanmu sebagai seseorang
yang bisa merindu, sejak kau tahu adam menyebutmu,
Renungkanlah tanaman-tanaman di bumi
dan lihatlah tanda-tanda ciptaan sang maha raja
Perempuan melenggang di kesunyian
Cintanya cahaya, dukanya bayang-bayang
kelak kau baca kata-kata yang mengucap gagu
jika iya yang kau cinta, maka akan datang keindahanya
Mata air yang mengalir dari perak yang mengkilat yang ketajamannya,
bagaikan emas batangan murni,
di dekat batu-batu permata.
Angin yang lewat tak membisikkan sesuatu begitu pula waktu
tapi diam tercatat dalam kalbu, biar tersimpan rapat, hingga akhirnya tahu
rahasia indah itu.
Adam adalah kaum yang jika dipanggil untuk menunaikan sholat
langsung menghadap wajah ke hijaz lalu bertakbir
dan peperangan yang membanjiri dengan darah merah,
ingatlah kematian dan sebelumnya, tak ada seorang pun yang dapat menghindari maut
Wahai prempuan kau adalah keindahan surga, namun kuburan bisa
menjadi salah satu taman surgamu
pertemuan dengan seorang kekasih setelah rindu sekian lama mengharu biru, perpisahan lahirkan perjumpaan
perjumpaan dengan kekasih telah mengaharu biru setelah rindu sekian lama, tak ubahnya pepohonan yang bersemi dimusim penghujan begitu kemarau kering berlalu karna tetesan-tetesan embun jatuh membasahi dan memberikan kesejukan. Sama halnya buah-buahan ranum yang menyembul diantara mahkota daun setelah angin bertiup kencang, taman yang dahulu gersang kini menghijau penuh dengan bunga-bunga. Rasanya belum sepadam dengan indahnya perjumpaan dengan sang kekasih, yang begitu dipuja kepribadiannya, yang dipuji perangainya dan begitu disukai akan sifat-sifatnya. Perjumpaan dengan sang kekasih begitu indah, hingga tak dapat dilukiskan dengan kata-kata para sastrawan ternama, tidak dapat digambarkan para pendongeng terkemuka dibelahan dunia mana pun. Sebab hanya hati yang dapat merasakan kehangatannya.
Ingin rasanya hati ini aku robek dengan pisau
Lalu aku masukan dirimu kedalamnya dan kudekap erat
Agar kau tak berpaling kelain hati
Sampai kiamat dan hari kebangkitan nanti
Kau tinggal didalamnya selama aku hidup, dan jika aku mati
Kau tetap didalamnya temani aku dikegelapan kubur
Lama aku tak berjumpa dengan sahabatku fatir, sejak iya merasakan akan sebuah perasaan yang tengah mengetarkan hatinya dan mampu membuat hari-harinya menjadi gelisah, larut dalam sebuah pikiran yang jauh berkelana. Hingga suara getaran gemuruh memanggilku dan membuyarkan aku dari lamunanku. Wahai sahabatku lama aku tak berjumpa dengamu. Aku kini berada dihadapanmu kembali, ada apa wahai sahabatku, langkah kaki apa yang membawamu kembali dihadapanku, sehingga membuat silaturahmi ini tidak terputus.
Wahai sahabat aku Alli, engkau paling mengerti akan diriku, engkau paling tahu akan kegelisahan hatiku, sungguh engkau bagaikan malaikat yang mencatat setiap amal kebaikan dari manusia, dengan segala perangainya, engkau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para sahabat lain, terima kasih wahai sahabatku jika kau mempercayakan tulisan tinta hidupmu kepadaku. Kau tahu aku menantikan bidadari surga yang akan meneranggi jalan ibadahku, “ya aku tahu itu” cinta adalah sesuatu hal yang indah dengan segala kata-kata yang terangkai dan tergambar dalam bingkainya. Meski cinta terkadang menusuk jiwa dari hati setiap manusia, namun itulah cinta yang mampu merubah lumpur menjadi tembikar, yang mampu merubah dingin menjadi panas, yang mampu merubah gelap menjadi terang, yang mampu merubah darah menjadi anggur, yang mampu merubah tabiat menjadi sang arif. Itulah cinta dengan segala hal yang meneranginya.
Kau tahu cinta ini telah penuhi relung batinku, kucoba untuk kendalikan mataku agar tak liar seperti mata kuda, aku sedang dambakan seorang gadis yang masih menjauh, barang kali bisa kucuri hatinya di suatu waktu hingga akhirnya ku terima jawaban yang menenangkan hatiku.perpisahan dengannya telah lahirkan perjumpaan kembali aku dengannya, dengan sang waktu yang telah mengiringi langkahku menuju cintaku.
Yakinlah wahai sahabatku atas cintamu itu, jika iya adalah perhiasan bagimu, jika iya adalah penerang bagimu, meski gadis yang kau cintai itu adalah tuan putri atau hanya seorang gadis biasa, karena sesungguhnya cintamu adalah hak dan cintamu adalah benar. Pinanglah iya sehingga hilang keresahan dalam hatimu. Semoga akan membawa cintamu dalam ridhonya. Pertemuan ku dengannya telah mengetarkan hati dan keyakianku Fatir berkata: “dalam pertemuan itu yang terulang kembali, seperti kata almaira: “kamu melihatku hari ini, pada waktu yang sama dan tak kurang akan satu apa pun” dalam putaran waktu aku bertemu kembali ditempat diwaktu yang sama, atas restu allah iya menemuiku, meski aku sempat berkelana mencarinya setelah pertemuanku yang pertama, namun kali ini sungguh berbeda, sang maha mendengar, telah memenuhi doaku, fatir mendekati kembali gadis itu yang tengah berjalan menuju dirinya. Almira bertanya: “mengapa kau kembali?” “aku kembali untuk mencari jawaban atas kegelisahan hatiku.” “apa yang membuat hatimu gelisah” “kau” mendengar itu sang gadis berkata: “aku” “jauhkan rasa itu darimu” fatir menatap wajah gadis itu, “mengapa” gadis itu hanya dapat tersenyum, menatap wajah pemuda yang gagah yang tengah berdiri dihadapannya:”kau tahu aku adalah racun untuk sebagian kaum lelaki, aku adalah kumbang selalu bernyanyi dipagi hari, aku adalah kupu-kupu yang dicari oleh setiap lelaki, dan aku tak pantas untukmu.” Fatir bertanya lagi. Ia menjawab: “ilmumu, demi Allah, tentang apa yang ada dilangit ketujuh lebih dekat padamu dari apa yang kamu tanyakan itu. Maka tinggalkanlah sesuatu yang mustahil.” Fatir masih penasaran, iya mengikuti setiap langkah gadis itu, yang pergi meninggalkan dirinya, melangkah dan terus melangkah dalam bayang-bayang gelap yang tak diketahuinya. Hingga langkah kaki itu terhenti disebuah rumah, yang begitu banyak kaum pria dari anak adam, yang masuk silih berganti kedalam rumah itu.
Dengan rasa penasaran ku ikuti setiap langkahmu, tak peduli duri akan menusuk langkahku, tak peduli meski aku harus mengiba, tak peduli meski meski langit akan menimpaku. Aku sudah tidak tahan alagi menyimpan perasaan ini aku harus kembali menyamaikan isi hati ini, hingga mendapatkkan jawabannya, fatir kembali melangkah menuju kedalam rumah itu. Aku hanya berdiri terpaku, rongga dadaku terasa amat sepit dan aku tak bisa mengendalikan diriku. Aku hanya berdiri terpaku, seolah tak percaya atas apa yang baru saja aku lihat, pada dirinya. Namun dadaku terasa sesak kala iya pergi berlari, ketika aku melihatnya, iya segera setelah gadis itu lenyap dari pandangan matanya tiba-tiba iya merasakan getaran aneh yang membersit didada, seakan ada nayala api yang mulai membakar hati dan merambat keseluruh pori-pori. Nafasnya naik turun dengan kencang, jantungnya berdebar mengisyaratkan kerisauan yang menjadi-jadi.Ditaman nan indah setelah aku berlari mengejarnya, untuk mencari jawaban atas apa yang aku lihat, gadis itu menatap dengan mata berlinang: “kini kau tahu atas apa yang kau lihat, dengan apa yang kau dengar, dan dengan apa kau rasakan, masihkan kau mencintaiku, seperti perjumpaan yang pertama, seperti perjumpaan hari ini, akankah cintamu masih utuh untuk ku.” “siapa kau sebenarnya” gadis itu kembali menjawab: “ aku adalah aku, aku adalah buah dari dosa kaummu, aku adalah perhisaan bagi kaummu, aku adalah pemuas nafsu bagi kaummu.” Fatir terdiam kala memandang wajah gadis yang dicintainya penuh dengan linangan air mata, “apa kau masih mengagungkan arti cinta kepadaku” fatir pun berkata: “ cintaku padamu adalah hak dan cintaku padamu adalah benar, tak ada alasan bagi cintaku, atas kejujuranmu.
Hanya tuhan yang bisa menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin.” Waktu itu si gadis sedang memegang sebilah bambu yang runcing, tahu-tahu pemuda itu memeluknya karena tak kuasa melihat gadis yang di cintainya menetesakan linangan air mata, atas cintanya ia memeluknya sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar, akibatnya tanpa disadari bambu itu mengores ibu jarinya hingga berdarah. Begitu melihat kekasihnya terluka, dengan belati yang melingar ditubuh pemuda itu, langsung ditusukkan ketangannya sendiri untuk mencungkil sedikit daging dari sana, dan segera menempelkan pada ibu jari kekasihnya yang terluka.Kini aku tahu cintamu nyata untuk ku, bukan sekedar lukisan nan indah. Fatir dan almira terdiam menatap dengan penuh kehangatan, “maukah kau menikah denganku” gadis itu terdiam, bibirnya keluh, hingga berucap: “asyadualla illa haillallah waasyaduanna Muhammad durasaallah,” mengapa kau mengucap syahadat, “aku bersyahadat untuk mengislamkan tubuhku, aku ingin mejadi yang halal untukmu, atas segala dosa yang telah aku lakukan, jika benar itu” “iya” aku mau untuk menikah denganmu, menjadi bagian dari harimu, atas restu Allah aku pun mencintai dirimu sejak saat itu. Kau adalah anugrah untuk berkasih dan berbagi.Dengan restu-Nya cinta mereka bersatu dalam balutan selimut ke jujuran dan kesetiaan, hingga para malaikat tersenyum dan bidadari surga berdoa untuknya, Cinta kini telah menemukan jalannya, atas restu Allah tidak ada sesuatu kaum yang tak berhak atas nama cinta.
Tentang itu aku bacakan syair berikut:
Cinta yang tulus bukan hasil proses sesaat
Bukan pula karena paksaan
Melainkan berjalan dan berbuah dengan pelan
Lewati perpaduan panjang sehingga kokoh tiang pancang
Setelah lama perjalanan, mantaplah niat dan keteguhan
Tidak mudah goyah, tak mudah pudar ikatan
Adalah kenyataan setiap yang tumbuh dengan cepat
Tak lama kemudian tumbang dan hilang
Sedang aku adalah tanah yang gersang
Tidak mudah tanaman yang tumbuh diatasnya
Namaun sekali tanaman mampu bertahan
Tidak mudah ia tumbang karena akarnya kuat mencengkeram.
Kalau saja alasan mencintai hanya karena keindahan fisik, maka bentuk fisik yang kurang indah, pasti tidak ada yang akan menganggap indah dan tidak akan ada yang mencintai. Padahal sering kita temukan orang yang lebih memilih menemukan pasangan dengan bentuk fisik yang tidak terlalu bagus. Walau pun ia tahu ada orang lain yang bentuk fisiknya lebih bagus dari pilihannya, meski pun demikian ia tetap mantap dengan pilihannya dan tidak berpalling sedikit pun pada yang lain. Dan kalau alasan mencintai karena adanya kesamaan dalam akhlak, maka seseorang tidak akan mencintai orang yang tidak pernah membantu dirinya. Dari sinilah aku tahu bahwa cinta adalah sesuatu yang tersembunyi pada kedalaman jiwa, meskipun demikian bisa saja cinta itu timbul dalam sekejap karena suatu sebab. Akan tetapi cinta seperti itu akan cepat, hilang pula seiring dengan tergerusnya apa yang menjadi penyebabnya… orang yang mencintai karena suatu alasan, akan berpaling darimu seiring dengan hilangnya alasan itu. Tentang hal itu aku bersyair:
Cintaku padamu abadi seperti sedia kala
Sampai akhir, tidak kurang karena satu hal, dan tidak lebih
Dan tak ada sebab yang kiranya dapat diketahui orang
Jika kita temukan sesuatu tak berlasan selain dirinya
Maka dialah wujud yang tak akan lenyap selamanya
Dan jika kita temukan sesuatu karena satu alasan
Maka ia akan lenyap ketika lenyapnya alasan
Aku pernah melihat seseorang yang sedang jatuh cinta jaring-jaring cinta telah menjeratnya dan begitu menyibukkan hati dan pikirannya. Aku perkirakan “sakit cintanya” sudah demikian parah akibat hujaman panah asmara, saat itu dia juga tidak pernah menghibur diri dan berdoa memohon kesembuhan kepada Allah atas apa yang sedang menimpa dirinya. Lidahnya tidak pernah tergerak untuk itu. Doa yang dipanjatkannya tidak lain dari minta di persatukan dengan orang yang dicintainya. Sementara “bencana asmara” yang menimpa dirinya begitu besar, dan “derita cinta” yang di alaminya sudah cukup panjang. Tapi rupanya ia tidak ingin kehilangan “sakitnya” itu. Pada suatu hari aku datang kepadanya. Aku melihat dia sudah sedikit terpuruk dalam cinta sehingga keadaan dan perilakunya sudah tidak terkontrol lagi. Kenyataan itu mengkhawatirkanku, ketika ku beranikan berkata kepadanya: “semoga Tuhan memberikan kelapangan kepadamu,” kulihat rona wajahnya memancarkan ketidak senangan kepadaku. Orang dalam keadaan seperti dia mungkin akan bersyair seperti ini:
Kunikmati “nestapa” cintaku padamu, wahai pujaan
Sepanjang waktu aku tak akan berpaling darimu
Jika orang berkata kepadaku,
Kosongkan dirimu sejenak dari mencintainya
Seorang yang sedang jatuh cinta, apabila kurang percaya akan ketulusan cinta kekasihnya, ia akan mengawasi setiap gerak-geriknya dengan ketat (protektif), jauh berbeda dengan kebiasaannya sebelum jatuh cinta. Orang yang sedang jatuh cinta juga senang memperhalus tutur katanya, memperbagus (membagus-baguskan) tingkah laku dan penampilan lahiriahnya.
Pada suatu malam, seorang sahabat datang kepadaku ia bercerita tentang keadaan dirinya dan ia berkata: “suratmu dari Almeria telah sampai dirumahku di jativa gunung sindur, dan mengingkatkan ku akan kebaikan perilakumu.” Aku panjatkan puji kepada Allah, ia begitu bahagia, hingga matanya berkaca-kaca dan berbinar. Tidak lama dari kedatangan surat itu, aku kini langsung melihat dirimu yang sengaja datang kepadaku setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan. Jauhnya jarak, bahayanya jalan yang dilewati dan lelahnya perjalanan, semua dikalahkan oleh kecintaan, kerinduan, dan indahnya bayangan perjumpaan. Maka Kepada-Nya aku panjatkan puji dan syukur. Makna-makna yang kamu tuangkan dalam suratmu itu lebih dari yang biasa aku lihat pada surat-suratmu yang lain. Lalu kamu nyatakan tujuan kedatanganmu kepadaku dan kamu tunjukan kepadaku paham yang kamu pegang. Ternyata antara kita terjalin persamaan dan kebersamaan dalam suka dan duka, lahir dan batin. Kamu telah menjalin cinta yang benar kepadaku, dan kecintaanku kepadamu berlipat-lipat dari kecintaanmu kepadaku. Aku tidak mengharap balasan apa pun selain penerimaan yang serupa dengan kecintaan yang kuberikan. Aku akan meminangmu dengan bismillah, dan atas restu Allah aku berharap kau menjadi yang terakhir untukku.
Aku mencintaimu, cinta yang tak ada kesamaran padanya
Karena sebagian dari cinta orang hanyalah fatamorgana
Dan aku katakan dengan jelas dan tulus
Bahwa kecintaan padamu terukir dengan nyata dan tertulis
Andai dalam jiwaku ada benci padamu
Akan kucabut dan kurobek tabir penutupnya
Tak ada keindahan darimu selain cinta
Dan tak ada bagiku kata-kata cinta selain untukmu
Saat kuhujamkan cinta, bumi ini bagai tanah kering,
Manusia seperti buih dan penghuni bumi layaknya debu
Aku bertanya kepada sahabatku, wahai sahabat dimana kau bertemu dan mengenalnya, gadis yang telah membuatmu begitu bersemangat hingga harimu penuh dengan warna. Ia pun bercerita kembali:
Sahabatku, aku bertemu dengannya disebuah desa yang jauh dari keramain, desa yang begitu indah, tenang dan keramahan dari penduduknya. Dimana ketika aku tengah lewat di desa tersebut, aku melewati jalan dimana tempat berkumpulnya kaum wanita. Disanalah aku melihat seorang gadis yang mempu merebut perhatian dan cintanya, dan dalam sekejap cintaku pada gadis itu menjalar keseluruh tubuh, merayap kejantung dan pori-pori. Fatir yang tak lain adalah sahabatku, kemudian pergi dari tempat itu ternyata si gadis menuju jembatan, dan berlanjut kesebuah perkebunan yang berada di pinggiran desa. Ketika sampai di perkebunan yang berada disebarang sungai, gadis itu berpaling dan memperhatikan aku, dan tidak disangka-sangka ia mendekati aku dan bertanya: “mengapa kamu mengikuti aku?” aku berterus terang kepada gadis itu, “aku jatuh cinta kepadamu” mendengar itu si gadis berkata: “jauhakan ini semua darimu! Jangan kau pancing kemarahanku!”fatir menjawab dengan santun:”sesungguhnya dengan memandangmu saja aku sudah merasa cukup.” Si gadis berkata: “kalau hanya itu boleh saja.”wahai engkau gadis yang singgah dipikiranku, apakah engaku seorang yang merdeka atau hamba sahaya?”perempuan itu menjawab:”aku merdeka.” “siapa namamu” Tanya fatir lagi. “almaira,” jawabnya. “apa aku boleh untuk kembali bertemu denganmu,” gadis itu terdiam menunduk, hingga bibirnya berkata: “bukan aku yang menentukan, siang dan malam, bukan aku yang menentukan perputaran setiap planet, bukan aku yang menentukan matahari, bintang dan bulan. Tapi Allah, dan jika memang kehendaknya aku akan berjumpa denganmu lagi, seperti yang kau inginkan.” “Lalu, dimana aku bisa melihatmu lagi setelah ini?” “seperti kamu melihatku hari ini, pada waktu yang sama, jika allah mengkehendaki,” Kemudian ia berkata kepada Fatir: “kamu yang pergi atau aku yang lebih dulu pergi?” fatir berkata: “pergilah kamu dalam lindungan Allah.” Lalu ia pergi menuju jembatan dan fatir tidak bisa mengikutinya sebab ia selalu menoleh kearah fatir untuk memastikan apakan fatir mengikutinya lagi atau tidak. Setelah gadis itu pergi melewati ujung jembatan, fatir mencoba untuk mencarinya tapi iya tidak menemukannya.
Wahai sahabatku, sesungguhnya engkau tengah dilanda cinta sebuah perasaan yang setiap manusia akan merasakan keindahan, dari arti cinta itu meski terkadang cinta itu tak seindah kata dan tulisannya. Wahai sahabatku demi Allah, aku sadar akan itu semua, namun cintaku pada gadis itu begitu besar, kau tahu wahai sahabat.
“Aku belum pernah melihat seorang gadis yang hampir sempurna dimataku, ia lebih bening dari air yang paling jernih, lebih lembut dari udara, lebih tegar dari gunung, lebih kuat dari besi, lebih indah dari lukisan terindah, lebih bersinar dari sang surya, lebih nyata dari siang, lebih berkelip dari bintang, wajahnya lebih elok dibandingkan Aisah, dan lebih manis dari madu. Sampai sekarang hatiku gelisah memikirkannya, sejak pertemuan itu aku belum dapat berjumpa dengannya kembali,” Ali memandang wajah dari sahabatnya itu, iya melihat mata dari sahabatnya itu berkaca-kaca, wahai sahabatku Fathir: “Yakin adalah tetapnya ilmu di dalam hati iya tidak berbalik, tidak berpindah. Yakin adalah berhentinya keraguan dalam penyaksian yang tersembunyi, Cintamu padanya abadi seperti sedia kala Sampai akhir, tidak kurang karena satu hal dan tidak lebih tidak ada alasan bagi cintamu selain keinginan dan keyakinan. Dan tak ada sebuah yang kiranya dapat diketahui orang Jika kau temukan sesuatu tak beralasan selain dirinya maka dialah wujud yang tak akan lenyap selamanya dan jika kau temukan sesuatu karena satu alasan maka ia akan lenyap ketika lenyap alasan Begitu juga dengan keyakinan, Yakinlah wahai sahabatku, kelak kau akan berjumpa dengannya atas restu-Nya.”
Hingga waktu berputar menjelang sang fajar, bersama dengan perginya sahabatku, aku masih terdiam. Aku benar-benar heran dengan orang yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama, aku hampir-hampir tidak mempercayainya. Aku pikir cintanya tidak lebih dari nafsu syahwat, besar dugaanku cintanya itu bukan tumbuh dari kelembutan nurani, yang sanggup menyibakkan tirai hati. Aku sendiri tidak pernah merasakan cinta, kecuali melalui sebuah proses yang panjang, setelah terlebih dahulu menjalin kebersamaan yang tidak sebentar dan setelah sekian waktu bersama, dalam suka dan duka, dalam susah dan senang. Aku tidak akan lupa tentang jalinan kasih sayangku dengan seseorang. Sebelum aku jatuhkan pilihan cintaku pada orang itu, antara aku dan dia terlebih dahulu terjalin hubungan persahabatan yang mendalam, makan dan minum bersama, setelah aku mengenalnya dengan baik, tak pernah bosan untuk bertemu dan berbagi cerita dengannya. Tapi sekali lagi aku katakan aku tidak pernah cepat mengucapkan kata cinta kepada seseorang pada perjumpaan pertamaku. Meski kini cintaku telah karam, tergerus dalam putaran sang waktu cinta yang dahulu begitu aku puja kini berganti dengan kebencian yang terukir dalam sebuah tulisan pengkhianatan,iya pengkhianatan yang merupakan lawan atau kebalikan dari kesetiaan. Meski rasa dari kata itu begitu menusuk dada menjadi sesak seolah dihentak oleh batu basar, seperti tertikam belati sang pemburu, seperti tertusuk pedang para khalifah, seperti tertimbun bongkahan-bongkahan batu es, yang begitu dingin membekukan hati dan jiwa.dan tentang hal ini aku mempunyai sebuah syair:
Tidakah kau tahu setiap kali adam mengunjungi zainab,
adam selalu mencium harum wewangian,
meskipun ia tak menggenakan minyak wangi.
Wahai prempuan berparas rembulan
engkau adalah bidadari yang dikirim dari surga,
Matamu, telah memberikan nasehat di siang hari,
sangat jelas nasehatnya, hingga mengalir air mata
Maaf bila merindu membayangkanmu sebagai seseorang
yang bisa merindu, sejak kau tahu adam menyebutmu,
Renungkanlah tanaman-tanaman di bumi
dan lihatlah tanda-tanda ciptaan sang maha raja
Perempuan melenggang di kesunyian
Cintanya cahaya, dukanya bayang-bayang
kelak kau baca kata-kata yang mengucap gagu
jika iya yang kau cinta, maka akan datang keindahanya
Mata air yang mengalir dari perak yang mengkilat yang ketajamannya,
bagaikan emas batangan murni,
di dekat batu-batu permata.
Angin yang lewat tak membisikkan sesuatu begitu pula waktu
tapi diam tercatat dalam kalbu, biar tersimpan rapat, hingga akhirnya tahu
rahasia indah itu.
Adam adalah kaum yang jika dipanggil untuk menunaikan sholat
langsung menghadap wajah ke hijaz lalu bertakbir
dan peperangan yang membanjiri dengan darah merah,
ingatlah kematian dan sebelumnya, tak ada seorang pun yang dapat menghindari maut
Wahai prempuan kau adalah keindahan surga, namun kuburan bisa
menjadi salah satu taman surgamu
pertemuan dengan seorang kekasih setelah rindu sekian lama mengharu biru, perpisahan lahirkan perjumpaan
perjumpaan dengan kekasih telah mengaharu biru setelah rindu sekian lama, tak ubahnya pepohonan yang bersemi dimusim penghujan begitu kemarau kering berlalu karna tetesan-tetesan embun jatuh membasahi dan memberikan kesejukan. Sama halnya buah-buahan ranum yang menyembul diantara mahkota daun setelah angin bertiup kencang, taman yang dahulu gersang kini menghijau penuh dengan bunga-bunga. Rasanya belum sepadam dengan indahnya perjumpaan dengan sang kekasih, yang begitu dipuja kepribadiannya, yang dipuji perangainya dan begitu disukai akan sifat-sifatnya. Perjumpaan dengan sang kekasih begitu indah, hingga tak dapat dilukiskan dengan kata-kata para sastrawan ternama, tidak dapat digambarkan para pendongeng terkemuka dibelahan dunia mana pun. Sebab hanya hati yang dapat merasakan kehangatannya.
Ingin rasanya hati ini aku robek dengan pisau
Lalu aku masukan dirimu kedalamnya dan kudekap erat
Agar kau tak berpaling kelain hati
Sampai kiamat dan hari kebangkitan nanti
Kau tinggal didalamnya selama aku hidup, dan jika aku mati
Kau tetap didalamnya temani aku dikegelapan kubur
Lama aku tak berjumpa dengan sahabatku fatir, sejak iya merasakan akan sebuah perasaan yang tengah mengetarkan hatinya dan mampu membuat hari-harinya menjadi gelisah, larut dalam sebuah pikiran yang jauh berkelana. Hingga suara getaran gemuruh memanggilku dan membuyarkan aku dari lamunanku. Wahai sahabatku lama aku tak berjumpa dengamu. Aku kini berada dihadapanmu kembali, ada apa wahai sahabatku, langkah kaki apa yang membawamu kembali dihadapanku, sehingga membuat silaturahmi ini tidak terputus.
Wahai sahabat aku Alli, engkau paling mengerti akan diriku, engkau paling tahu akan kegelisahan hatiku, sungguh engkau bagaikan malaikat yang mencatat setiap amal kebaikan dari manusia, dengan segala perangainya, engkau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para sahabat lain, terima kasih wahai sahabatku jika kau mempercayakan tulisan tinta hidupmu kepadaku. Kau tahu aku menantikan bidadari surga yang akan meneranggi jalan ibadahku, “ya aku tahu itu” cinta adalah sesuatu hal yang indah dengan segala kata-kata yang terangkai dan tergambar dalam bingkainya. Meski cinta terkadang menusuk jiwa dari hati setiap manusia, namun itulah cinta yang mampu merubah lumpur menjadi tembikar, yang mampu merubah dingin menjadi panas, yang mampu merubah gelap menjadi terang, yang mampu merubah darah menjadi anggur, yang mampu merubah tabiat menjadi sang arif. Itulah cinta dengan segala hal yang meneranginya.
Kau tahu cinta ini telah penuhi relung batinku, kucoba untuk kendalikan mataku agar tak liar seperti mata kuda, aku sedang dambakan seorang gadis yang masih menjauh, barang kali bisa kucuri hatinya di suatu waktu hingga akhirnya ku terima jawaban yang menenangkan hatiku.perpisahan dengannya telah lahirkan perjumpaan kembali aku dengannya, dengan sang waktu yang telah mengiringi langkahku menuju cintaku.
Yakinlah wahai sahabatku atas cintamu itu, jika iya adalah perhiasan bagimu, jika iya adalah penerang bagimu, meski gadis yang kau cintai itu adalah tuan putri atau hanya seorang gadis biasa, karena sesungguhnya cintamu adalah hak dan cintamu adalah benar. Pinanglah iya sehingga hilang keresahan dalam hatimu. Semoga akan membawa cintamu dalam ridhonya. Pertemuan ku dengannya telah mengetarkan hati dan keyakianku Fatir berkata: “dalam pertemuan itu yang terulang kembali, seperti kata almaira: “kamu melihatku hari ini, pada waktu yang sama dan tak kurang akan satu apa pun” dalam putaran waktu aku bertemu kembali ditempat diwaktu yang sama, atas restu allah iya menemuiku, meski aku sempat berkelana mencarinya setelah pertemuanku yang pertama, namun kali ini sungguh berbeda, sang maha mendengar, telah memenuhi doaku, fatir mendekati kembali gadis itu yang tengah berjalan menuju dirinya. Almira bertanya: “mengapa kau kembali?” “aku kembali untuk mencari jawaban atas kegelisahan hatiku.” “apa yang membuat hatimu gelisah” “kau” mendengar itu sang gadis berkata: “aku” “jauhkan rasa itu darimu” fatir menatap wajah gadis itu, “mengapa” gadis itu hanya dapat tersenyum, menatap wajah pemuda yang gagah yang tengah berdiri dihadapannya:”kau tahu aku adalah racun untuk sebagian kaum lelaki, aku adalah kumbang selalu bernyanyi dipagi hari, aku adalah kupu-kupu yang dicari oleh setiap lelaki, dan aku tak pantas untukmu.” Fatir bertanya lagi. Ia menjawab: “ilmumu, demi Allah, tentang apa yang ada dilangit ketujuh lebih dekat padamu dari apa yang kamu tanyakan itu. Maka tinggalkanlah sesuatu yang mustahil.” Fatir masih penasaran, iya mengikuti setiap langkah gadis itu, yang pergi meninggalkan dirinya, melangkah dan terus melangkah dalam bayang-bayang gelap yang tak diketahuinya. Hingga langkah kaki itu terhenti disebuah rumah, yang begitu banyak kaum pria dari anak adam, yang masuk silih berganti kedalam rumah itu.
Dengan rasa penasaran ku ikuti setiap langkahmu, tak peduli duri akan menusuk langkahku, tak peduli meski aku harus mengiba, tak peduli meski meski langit akan menimpaku. Aku sudah tidak tahan alagi menyimpan perasaan ini aku harus kembali menyamaikan isi hati ini, hingga mendapatkkan jawabannya, fatir kembali melangkah menuju kedalam rumah itu. Aku hanya berdiri terpaku, rongga dadaku terasa amat sepit dan aku tak bisa mengendalikan diriku. Aku hanya berdiri terpaku, seolah tak percaya atas apa yang baru saja aku lihat, pada dirinya. Namun dadaku terasa sesak kala iya pergi berlari, ketika aku melihatnya, iya segera setelah gadis itu lenyap dari pandangan matanya tiba-tiba iya merasakan getaran aneh yang membersit didada, seakan ada nayala api yang mulai membakar hati dan merambat keseluruh pori-pori. Nafasnya naik turun dengan kencang, jantungnya berdebar mengisyaratkan kerisauan yang menjadi-jadi.Ditaman nan indah setelah aku berlari mengejarnya, untuk mencari jawaban atas apa yang aku lihat, gadis itu menatap dengan mata berlinang: “kini kau tahu atas apa yang kau lihat, dengan apa yang kau dengar, dan dengan apa kau rasakan, masihkan kau mencintaiku, seperti perjumpaan yang pertama, seperti perjumpaan hari ini, akankah cintamu masih utuh untuk ku.” “siapa kau sebenarnya” gadis itu kembali menjawab: “ aku adalah aku, aku adalah buah dari dosa kaummu, aku adalah perhisaan bagi kaummu, aku adalah pemuas nafsu bagi kaummu.” Fatir terdiam kala memandang wajah gadis yang dicintainya penuh dengan linangan air mata, “apa kau masih mengagungkan arti cinta kepadaku” fatir pun berkata: “ cintaku padamu adalah hak dan cintaku padamu adalah benar, tak ada alasan bagi cintaku, atas kejujuranmu.
Hanya tuhan yang bisa menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin.” Waktu itu si gadis sedang memegang sebilah bambu yang runcing, tahu-tahu pemuda itu memeluknya karena tak kuasa melihat gadis yang di cintainya menetesakan linangan air mata, atas cintanya ia memeluknya sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar, akibatnya tanpa disadari bambu itu mengores ibu jarinya hingga berdarah. Begitu melihat kekasihnya terluka, dengan belati yang melingar ditubuh pemuda itu, langsung ditusukkan ketangannya sendiri untuk mencungkil sedikit daging dari sana, dan segera menempelkan pada ibu jari kekasihnya yang terluka.Kini aku tahu cintamu nyata untuk ku, bukan sekedar lukisan nan indah. Fatir dan almira terdiam menatap dengan penuh kehangatan, “maukah kau menikah denganku” gadis itu terdiam, bibirnya keluh, hingga berucap: “asyadualla illa haillallah waasyaduanna Muhammad durasaallah,” mengapa kau mengucap syahadat, “aku bersyahadat untuk mengislamkan tubuhku, aku ingin mejadi yang halal untukmu, atas segala dosa yang telah aku lakukan, jika benar itu” “iya” aku mau untuk menikah denganmu, menjadi bagian dari harimu, atas restu Allah aku pun mencintai dirimu sejak saat itu. Kau adalah anugrah untuk berkasih dan berbagi.Dengan restu-Nya cinta mereka bersatu dalam balutan selimut ke jujuran dan kesetiaan, hingga para malaikat tersenyum dan bidadari surga berdoa untuknya, Cinta kini telah menemukan jalannya, atas restu Allah tidak ada sesuatu kaum yang tak berhak atas nama cinta.
Tentang itu aku bacakan syair berikut:
Cinta yang tulus bukan hasil proses sesaat
Bukan pula karena paksaan
Melainkan berjalan dan berbuah dengan pelan
Lewati perpaduan panjang sehingga kokoh tiang pancang
Setelah lama perjalanan, mantaplah niat dan keteguhan
Tidak mudah goyah, tak mudah pudar ikatan
Adalah kenyataan setiap yang tumbuh dengan cepat
Tak lama kemudian tumbang dan hilang
Sedang aku adalah tanah yang gersang
Tidak mudah tanaman yang tumbuh diatasnya
Namaun sekali tanaman mampu bertahan
Tidak mudah ia tumbang karena akarnya kuat mencengkeram.
0 komentar:
Posting Komentar